Wednesday, June 12, 2019

Pengembangan Bukan Sebatas Potensi Tehnologi

Kata pengembangan tidak asing buat kita. Kata ini berseliweran dalam berita mengenai usaha, perkembangan ekonomi, atau perubahan tehnologi. Kata ini sering ada bersamaan dalam kata tehnologi, pengusaha, atau daya saing. Pengembangan telah lama dimengerti jadi penggerak penting evolusi ekonomi. Tetapi, sekarang pengembangan lebih jadi perhatian sebab efeknya dapat radikal. Serta, ini bukan sekedar berlangsung di beberapa negara maju.



Di Indonesia, warga melihat bagaimana Gojek serta Grab merubah usaha angkutan serta pengiriman jarak pendek dalam kurun yang relatif cepat. Banyak perusahaan taksi kecil harus gulung tikar, serta yang besar dengan sulit payah harus beradaptasi dengan mereka. Pengembangan radikal ini buka peluang-peluang baru yang tidak terpikirkan awalnya. Lewat service Go-Food serta Grab-Food, usaha makanan dapat meluaskan jangkauan servicenya tak perlu mempunyai armada pengiriman sendiri. Bahkan juga beberapa orang yang tidak mempunyai warung atau restoran dapat juga memakainya untuk jual makanan mereka dengan daring.

Pengembangan yang ada di Gojek serta Grab adalah gabungan pemakaian tehnologi serta mode usaha. Mode usaha mereka bisa saja oleh perubahan tehnologi terbaru. Pengembangan, walau keseluruhannya terlihat jadi suatu yang baru, lebih adalah gabungan dari beberapa hal yang telah ada awalnya. Ada beberapa unsur lama yang diubah, serta lebih dikit faktor yang betul-betul baru.

Gojek serta Grab tidak ada bila tidak ada internet serta hp yang dapat jalankan aplikasi serta mempunyai peranan GPS. Peranan regulator memastikan. Service yang memulai usaha mereka, yaitu Go-Ride serta Grab-Bike, tidak bisa berjalan bila pemerintah bersikeras jika kendaraan roda dua tidak dapat jadikan angkutan umum.

Tiap usaha memerlukan ekosistem tersendiri. Bila faktor dari ekosistem itu tidak komplet, seseorang wirausahawan harus melengkapinya, apa dengan menciptakannya atau dengan masukkan faktor yang berada di luar. Gojek, Grab, Tokopedia, serta perusahaan-perusahaan penyuplai basis buat bisnis-bisnis lain itu tidak dapat bertahan cukup dengan pengembangan tehnologi serta usaha mode semata. Yang mereka kerjakan benar-benar radikal (walau telah ada misalnya di luar negeri), serta karenanya memerlukan ongkos mahal.

Mereka mentransformasi industri, membuat hubungan serta transaksi baru dengan usaha atau perseorangan sebagai mitranya atau dengan warga konsumen setia. Ini memerlukan proses edukasi, dan penyesuaian seluruh pihak, terhitung pengambil kebijaksanaan. Ini memerlukan proses panjang sebelum skema basis itu konstan serta dipakai dengan luas. Usaha merayu usaha atau perseorangan yang melakukan bisnis serta warga konsumen setia memakai basis itu memerlukan ongkos besar.

Partner mereka cuma akan bersedia berperan serta bila mereka memperoleh keuntungan dari keikutsertaan itu. Sesaat konsumen setia tuntut terdapatnya pilihan yang luas, keringanan transaksi, dan harga yang berkompetisi. Sesaat buat industri keuangan lokal, apa yang dikerjakan Gojek serta lain-lainnya ini ada di luar logika usaha mereka. Ini menyebabkan beberapa operator basis ini harus memercayakan investor global yang telah akrab dengan mode usaha mereka.

Hal di atas tunjukkan pengembangan bukan sekedar mempunyai dimensi tehnologi, dan juga usaha, peraturan, serta yang lain. Bahkan juga tehnologi yang mereka pakai bergantung pada teknologi-teknologi lain yang dipasok dari mana-mana. Satu perusahaan, atau satu negara sekalinya, butuh membuat potensi pengembangannya, tapi tidak bermakna mereka harus atau butuh terlepas dari ketergantungan pada faksi lain. Perusahaan yang diketahui benar-benar inovatif seperti Apple harus tetap memercayakan tehnologi dari perusahaan-perusahaan lain juga. Contohnya, monitor iPhone dipasok oleh Samsung dari Korsel, sesaat proses produksinya dikerjakan oleh Foxconn di Tiongkok.

Sekarang ialah masa ekonomi berjejaring, mustahil aktor ekonomi dapat membuat daya saingnya dengan memisahkan diri dari jaringan itu. Membuat jaringan tehnologi, usaha, serta modal benar-benar dibutuhkan dalam jaga keberlangsungan pengembangan. Perubahan ekonomi sekarang tuntut beberapa aktor ekonomi berkompetisi sekaligus juga berjejaring. Beberapa produk dari beberapa negara dapat berkompetisi di pasar lokal yang sama. Sesaat produk yang dibuat untuk penuhi keperluan pasar lokal sekalinya dapat memakai beberapa komponen dari beberapa negara.

Penciptaan nilai lebih serta daya saing satu perusahaan bergantung di tingkat pengembangannya, yang bertahan sampai pengembangan itu ditiru atau disaingi oleh pengembangan lain yang penuhi peranan yang sama. Pengembangan tidak harus radikal seperti yang seringkali dikerjakan Apple, tidak harus berefek besar seperti yang dibuat Google, tidak harus mentransformasi industri, seperti pengembangan basis usaha dari Gojek atau Tokopedia. Pengembangan bisa jadi dikerjakan UKM dengan efek kenaikan produktivitas yang tidak spesial, tapi bila dikerjakan oleh beberapa UKM di negara kita, karena itu efeknya keseluruhannya jadi kenaikan produktivitas pada tingkat nasional.

Bicara mengenai pengembangan, terhitung pengembangan tehnologi, ialah bicara mengenai usaha serta industri. Selanjutnya pengembangan ialah sisi dari pertempuran usaha. Kebijaksanaan pengembangan telah seharusnya adalah sisi dari kebijaksanaan industri. Peningkatan pengetahuan serta tehnologi, yang dapat tingkatkan cadangan pengetahuan yang dapat digabungkan untuk kepentingan pengembangan, semestinya jadi simpatisan buat kebijaksanaan industri. Tidak diperlakukan jadi bidang sendiri yang seutuhnya jadi masalah Kemenristek Dikti.

Ketakmampuan mengintegrasikan kebijaksanaan riset serta peningkatan (litbang) tehnologi dengan kebijaksanaan industri adalah tanda-tanda umum di beberapa negara berkembang. Seakan perkembangan tehnologi dapat diraih cukup dengan membagikan dana untuk pekerjaan litbang tehnologi semata-mata. Potensi tehnologi Taiwan, Korsel, atau Tiongkok diperlihatkan oleh beberapa produk tehnologi mereka yang membanjiri pasar dunia. Potensi tehnologi ini sudah meningkatkan tingkat kemakmuran mereka dari negara berpenghasilan rendah jadi negara berpenghasilan tinggi. Sesaat beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia serta Thailand, sebab tidak tetap tingkatkan potensi pengembangannya, ada dalam perangkap penghasilan menengah (Middle Penghasilan Trap).

Hal di atas membuat beberapa orang berasumsi jika kegiatan litbang tehnologi ialah hal yang penting dalam memburu perkembangan tehnologi. Konsentrasi mereka cuma menggerakkan peningkatan pengetahuan serta tehnologi, tanpa ada mengatur beberapa kondisi yang menggerakkan peningkatan itu, serta meremehkan beberapa faktor yang batasi atau kurangi motivasi peningkatan pengetahuan serta tehnologi.

Bila cuma konsentrasi pada pekerjaan peningkatan tehnologi, negara kita pernah mengerjakannya di masa B.J. Habibie jadi menteri analisa serta tehnologi. Negara kita telah menampung budget yang besar untuk meningkatkan industri dirgantara serta beberapa industri strategis yang lain. Banyak mahasiswa juga dikirim untuk belajar ilmu-ilmu tehnik atau eksperimen ke beberapa negara maju, seperti Belanda, Jepang, Jerman, serta lain-lainnya. Perhatian B.J. Habibie waktu itu benar-benar baik sebab coba memperkuat industri-industri tersendiri dan pekerjaan litbang pendukungnya. Sekarang kebijaksanaan peningkatan pengetahuan serta tehnologi malah terpisah dari kebijaksanaan industri. Usaha mensinergikannya kegiatan industri serta litbang dengan intens serta dalam belum juga terlihat.

Menginginkan potensi tehnologi bangsa akan maju cukup dengan menggerakkan pekerjaan litbang di perguruan tinggi serta instansi litbang dapat dianalogikan dengan kesebelasan sepak bola yang ingin jadi juara cukup dengan memercayakan pemain penyerangnya (penyerang) saja, tapi meremehkan beberapa pemain pada tempat yang lain. Bila penyerangnya bagus automatis prestasi kesebelasan akan dipandang juga bagus. Walau sebenarnya team sepak bola memerlukan beberapa pemain lain, dari mulai kiper, pemain bertahan sampai gelandang. Serta, yang tidak kalah utamanya, sehebat apa pun semasing pemain ini, mereka butuh berlatih untuk temukan kerja sama yang pas yang dapat membuahkan keunggulan team.

Dalam peningkatan tehnologi nasional beberapa faksi mempunyai peranan yang berlainan. Serta, yang butuh diakui, penyerangnya bukan instansi litbang atau perguruan tinggi tehnologi, tapi industri tersebut. Sebab ujung daya saing satu bangsa ialah daya saing industri. Selanjutnya buah dari pengembangan harus dipertarungkan di pasar, atau di bagian pemakaian lain yang non-komersial. Oleh karena itu, untuk pengembangan komersial, bidang usaha harus menjadi target penting kebijaksanaan pengembangan. Sedang instansi litbang, perguruan tinggi, permodalan analisa pemerintah, dan sebagainya yang berkaitan ialah susunan simpatisan yang dibutuhkan untuk memberi dukungan bidang usaha itu.

Kebijaksanaan pengembangan butuh menyesuaikan susunan simpatisan dengan bidang usaha. Instansi litbang tehnologi butuh berencana kegiatannya supaya bisa penuhi keperluan industri. Karena itu, riset mereka harus berangkat dari keperluan industri. Diluar itu skema stimulan mereka harus juga direncanakan supaya mereka bersedia kerja layani industri, serta bahkan juga dapat kerja ikuti irama golongan industri yang serba cepat, tidak ikuti skema penganggaran birokrasi.

Sekarang beberapa pemegang jabatan fungsional periset serta perekayasa, atau akademisi, mempunyai skema stimulan sendiri yang tidak seutuhnya sesuai dengan kebutuhan industri. Profesi mereka tetap naik meskipun terlepas dari industri. Hal yang penting untuk dilihat ialah konsentrasi. Jadi negara berkembang kita mempunyai terbatasnya sumber daya modal, manusia, serta tehnologi. Dengan terbatasnya ini, kita mustahil memburu kebanyakan hal. Untuk lebih mendayagunakan modal yang ada butuh dibikin prioritas, memastikan target tersendiri. Taiwan pada awal perubahannya,mengarah industri mikroelektronik, serta Korsel membangun industri baja yang dapat memasok pembangunan infrastruktur serta industri manufaktur yang ditingkatkan terakhir.

Di waktu Orde Baru, Indonesia lebih seperti Korsel dibanding Taiwan dalam memastikan target. Indonesia fokus pada beberapa bidang industri serta semasing memercayakan satu perusahaan negara. Ini seperti dengan Korsel yang mengawali pembangunan tehnologinya lewat perusahaan negara yang membuat baja, lalu lewat beberapa perusahaan raksasa lokal (chaebol). Selain itu Taiwan pilih satu bidang, yaitu mikroelektronika, serta menyertakan banyak aktor industri. Lewat instansi pemerintah Industrial Technology Research Institute (ITRI), Taiwan dengan aktif mendifusikan pengetahuan serta tehnologi baru ke beberapa puluh perusahaan lokal. Awalannya tehnologi ini didapat lewat cara melisensi tehnologi di luar, serta dengan setahap mereka lakukan peningkatan sendiri.

Kebijaksanaan pengembangan yang memercayakan banyak perusahaan ini lebih terbuka pada peluang menimbulkan perusahaan-perusahaan yang unggul serta inovatif. Sesaat yang memercayakan satu perusahaan lebih beresiko, sebab bila tidak berhasil, tidak ada yang dihandalkan. Serta memercayakan perusahaan pemerintah lebih beresiko sebab pemerintah akan lakukan beberapa langkah supaya perusahaannya tidak terlihat tidak berhasil. Korsel yang memercayakan chaebol dapat menangani efek ini. Ini diantaranya sebab kebijaksanaan pengembangan mereka tidak hanya peningkatan tehnologi semata-mata, tapi memakai banyak kebijakan lain yang sama-sama memperkuat. Serta, yang tambah lebih penting ialah terdapatnya proses evaluasi kebijaksanaan (policy learning), terdapatnya potensi serta tekad untuk menjumpai kegagalan, serta dengan selekasnya mengoreksi kebijaksanaan yang tidak pas itu.

Ikbal Maulana periset di bagian filsafat serta analisis sosial tehnologi di Pusat Riset Kebijaksanaan serta Manajemen Iptekin (P2KMI) Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI)

0 comments:

Post a Comment